Cruel Fairy Tale (cerpen)

6 Aug 2011

alone1

Saat putuskan untuk membaca kisah ini, mari sejenak pejamkan mata. Bayangkan kalian ada di dalam suasana seperti yang diceritakan dalam lady oscar, pedesaan, kerajaan, hutan, alam yang indah. Ya, karena ini fairy tale pertama yang kubuat, selamat datang…

Pedesaan kecil dengan warga yang penuh kedamaian. Hidup di dalamnya satu keluarga kecil dengan putri kecilnya. Nama … aaahh nama, saya lupa itu. Kita sebut saja Arci. Anak kecil yang juga seperti anak - anak lainnya disana. Bahagia walau tanpa harta berlebih, bahagia dengan kasih sayang sesama. Pertengkaran kecil sesamanya, tertawa saat bermain kembali. Tangis saat merajuk. Tak ada yang berbeda.

Tumbuh menjadi gadis kecil yang menyukai pena, bulu ayam dengan tinta diujungnya membuat dirinya suka bersekolah. Melihat banyak warna di sana. Para bangsawan cilik laki - laki maupun perempuan. Para anak petani seperti dirinya, berkumpul bersama, dapat bermain dan tertawa bersama.

Berkawan dekat dengan anak laki-laki dari keluarga pedagang. Membuatnya merasa sangat bahagia. Walau, keluarga sang kawan, seringkali menunjukkan kelebihan hartanya, hal yang ia suka adalah bahwa kawannya terlihat sangat pandai, mengetahui banyak hal dan pernah mengunjungi banyak tempat. Namanya Ambus. Banyak orang bilang, ambuslah cinta pertama Arci. Walau di kepala Arci, sungguh tak tahu apa arti cinta, ia hanya selalu menyukai hal - hal yang baru.

Gadis kecil ini, entah bagaimana tak pernah tertinggal jauh dari para bangsawan. Kepiawaiannya mengadaptasi lingkungan, dan ketertarikannya pada hal baru. Membuatnya seringkali menjadi yang terbaik di kelasnya. Tak ayal, para bangsawan cilik pun dapat menjadi kawannya.

Saat perpisahan dengan sahabatnya karna kepindahan orangtuanya, Arci berfikir. Dimanapun Ambus berada, ia tak akan pernah tertinggal jauh darinya. Sesekali ia berkunjung ke kediaman Ambus, sekedar tuk menanyakan bagaimana sekolah tempatnya belajar kini? hingga akhirnya, Arci merasa terlalu disayangkan, sahabatnya perlahan memudar, prestasinya melemah, dengan semangat yang tak lagi ia temui. Usia juga membuat persahabatan mereka tak semanis masa kecil.

Bisa memiliki rumah sendiri, membawa serta ayah ibu di dalamnya, dengan adik laki - laki yang seringkali menjadi teman berkelahinya tentu ikut ke dalamnya. Selamanya tersenyum bahagia. Adakah gadis kecil bermimpi seperti itu?

Bukankah seharusnya bermimpi menjadi gadis desa beruntung yang dipinang seorang pangeran, dan hidup bahagia selamanyadi istana megah dengan putra putri lucu di sekelilingnya? ya. Gadis kecil itu memiliki pemikiran berbeda.

Dan Cara tercepat untuk mencapai mimpinya, adalah dengan menjadi tabib kerajaan. Belajar rajin, meraih mimpinya. Sejak awal memang terlalu naif ternyata.

Kenyataan berkata lain, putri dari seorang petani mengumpulkan sen demi sen untuk biaya pendidikan putrinya ke luar negerinya. Tentu bukan perkara mudah. Gadis cilik yang tumbuh menjadi remaja berusia 13 tahun itu, sadar. Mimpinya janganlah membuat orangtuanya menderita.

Para guru menanyakan murid - muridnya berniat kemanakah setelah pendidikan dasar selesai? sementara yang lain menjawab akan ke sekolah lanjutan. Ia berkata, akan pergi ke sekolah keterampilan. Malu, tapi sang guru tersenyum menyemangatinya. Dan berkata ia telah membuat keputusan yang berani.

Jalan nya seperti melewati jalan yang telah dibuat sebelumnya, aman, tiada duri berarti. Tiada penghalang yang terlalu besar tuk dihadapi. Ia jalan dengan penuh percaya diri hingga akhirnya pendidikannya di sekolah khusus selesai.

Gadis yang tak mengerti ambisi, akhirnya bekerja dalam istana dua bangsawan. Dengan hati yang polos, ia mendapat kepercayaan dari keduanya. Dan ternyata dengan kepolosannya jugalah ia mendapat celaka.

Layaknya seorang putri, ia di dalam istana itu. Begitu di dengar, begitu di hargai. Begitu bahagianya hingga tak sadar, bahwa hal bagus tak akan terus berlangsung selamanya.

Gadis lain, berambisi tinggi, dengan keyakinan penuh dengan cara apapun,ia dapat menjadi seorang putri raja yang menguasai penuh istana dengan para dayangnya. Elle namanya

Menawarkan persahabatan, Arci yang bodoh dengan senyum menerimanya. Mengajak serta Elle bersamanya bekerja pada dua bangsawan.

Tak lama sejak itu, langit bagi Arci tak lagi sebiru biasanya, pelangi yang biasa ada setiap hari baginya perlahan memudar.

Tubuhnya melemah, sakit dan sakit kembali. Berfikir karna terlalu lelah disebabkan ia melanjutkan kembali belajar setelah ia bekerja pada istana, Ia memutuskan menghentikan belajarnya. Hal pertama yang entah bagaimana membuatnya sedih.

Tahun demi tahun, sakit dan sakit yang lain, datang dan pergi dari tubuhnya. Berbagai macam tabib telah dikerahkan untuk membantu. Tapi kedua bangsawan itu tak pernah berhenti mengasihinya.

Hingga di tahun kelima ia coba bertahan dengan segala yang ia terima. Ia temukan kenyataan bahwa Elle lah dalang segalanya.

Air mata seperti tak dapat berhenti, sakit yang entah darimana ia rasakan, jauh lebih sakit dari yang ia rasakan pada raganya, pada kepalanya. pertanyaan dalam hatinya. \’how could she do that to me?\’ terus terngiang membuat hatinya melemah, kebencian mulai tumbuh di dalamnya.

Khawatir, ia akan kehilangan mimpinya. Karna hatinya telah hancur dan mulai kenal kebencian. Ia memutuskan meninggalkan istana. Berharap semuanya terhenti, sebab kejayaan itu lah yang Elle inginkan.

Dari jalan setapak yang terang, tanpa penghalang. Arci kini seperti memasuki hutan baru, dimana ia harus membuat jalannya sendiri. Dengan jebakan di kanan kiri yang menanti, mengharapkan ia salah memilih jalan. Membuatnya semakin tertekan.

Di kamarnya, arci memiliki dunia sendiri. cermin ajaib yang membawanya kedunia lain. Membuatnya kadang dapat melupakan sakitnya. Ia bermain disana, tertawa, ciptakan dewa dewinya sendiri.

Tapi…. Ia tak bisa lama disana, saat sakit di kepalanya datang, saat tubuhnya mendadak panas tinggi, ia akan terlempar keluar dari cermin. Ya. Walau ia telah meninggalkan semua yang ia cintai di Istana, ia masih rasakan sakit itu.

Sakit yang paling sakit yang ia rasakan, adalah saat obat tabib tak dapat menyembuhkan walau obat itu telah habis. Sakit yang paling sakit adalah teringat kembali kenangan yang tak ingin di ingat.

Disaat jalan menjadi berbeda, hal yang dapat membuat Arci bertahan adalah fikirannya. Yang entah sudah keberapa kalinya terasa sakit luar biasa. Tapi tetap bertahan pada tempatnya.

Sebisa mungkin, dengan sisa yang ada ia memelihara mimpinya. Sampai ia bertemu ksatria cantik perkasa, ia-lah kawan kecilnya yang dahulu ia kenal memang cantik tapi perkasa sekaligus. Namanya Afri.. Ia berani bermimpi, sama seperti dirinya bahkan lebih hebat. Sungguh itu cukup untuk seorang Arci untuk bertahan. Mengetahui sekitarnya masih banyak orang baik dan hebat.

Afri akan datang sebentar dengan kudanya, melempar sebuah buku untuk dibacanya dan berlalu untuk berbulan - bulan. Bertemu kembali menceritakan kisah cintanya, tertawa bersama. Lalu pergi lagi. Kau tahu apa yang tak pernah hilang? Semangatnya….. dan juga semangat tokoh tokoh yang bersemangat lain yang pernah ia temui.

Arci yang masa kini nya tak seindah masa kanak - kanaknya, menciptakan dunianya sendiri. di kamarnya, dengan cermin ajaib. Cermin yang dapat membawanya ke dunia lain, dunia cermin yang sesuai dengan angannya, kebaikan, ketulusan, mimpi indah, segala yang kini ia sadari perlahan menghilang dari dunia nyata.

Inginnya ia selalu di dalam dunia cermin. Bernyanyi dan menari, tertawa dan selalu gembira. Namun semua itu tak bisa. Saat sakitnya datang, tubuhnya terhempas dari dalam cermin. Kenyataan yang hingga kini ingin ia lupakan. Ia berharap bertemu dengan Tuhan, dan bertanya pada Nya. Bolehkah ia pergi dan menemani Tuhan saja di atas sana?

Terbaring di atas ranjangnya, menatap langit malam yang kala itu tak berbintang. Hanya kelam terlihat, ia berharap dirinya menghilang, menjadi butiran butiran debu yang tersebar bercahaya di langit itu. Itu akan lebih berguna, fikirnya.

Ketika malam berlalu, Kau datang bangunkanku, Melangkah menghampiriku, Di atas air mataku

Ketika pintu terbuka, Cahaya menggapaiku, Akankah setelah itu?, Aku kan bahagia?

Ketika lonceng berdentang, Dalam mimpi kutersadar, Diantara keramaian, Ku berdansa bahagia

Aku bernafas (you will never know), Aku masih hidup (everyone fails to love), Dapatkah kupercaya sedikitnya hal itu saja?

Nothing lasts forever,

Nothing really matters

Berbahayanya jalanku, Buatmu kesulitan, Suatu hari ku percaya, Ku kan dapat bahagia

Ku takkan pergi (I will never know),Kau kan temukanku (everyone tells me so),Semoga hal ini, takkan pernah sia - sia

Nothing last forever

Nothing really matters.

Will these story stop here?I will never know,Is it really there happy ending ever after?Every one tells me so

Malam ini ia terpejam, entah apa yang terjadi esok. Akankah Tuhan izinkan ia tuk kembali padaNya, hentikan segala letihnya? atau akankah ia melihat kembali mentari yang ceria seperti mentari masa kecilnya?

Capai segala mimpinya? tertawa lagi hingga kehidupan benar - benar berakhir untuknya? Dongeng yang kejam ini, bukan untuk anak - anak. Dongeng ini untuk manusia dewasa yang terperangkap dalam naifnya pikiran anak - anak. Bahwa segalanya dipenuhi ketulusan. Bahwa segalanya dipenuhi akhir cerita yang bahagia…

sky sea and see

inspired from IU’s song : Cruel Fairy Tale


TAGS Cerpen my own written


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post